Seni Hidup Sederhana

 


Kisah ini akan dimulai dari kompor dan diakhiri dengan mencuci baju

Selamat malam yorobuuunnnnn…….. semakin lama topic pembicaraan saya mulai berkurang begitu pula dengan topic tulisan untuk mengisi blog ini. Jadi saya akan membiarkan blog ini seperti vila orang kaya tanggung yang hanya diisi setahun sekali atau tiga kali kalau narik arisan.

Sebenarnya hati saya sedang biru karena laptop saya rusak dan kemungkinan untuk bisa diperbaiki itu kecil. Padahal file-file diary saya masih ada disitu, belum dipindahin. Saya hanya bisa menangis dalam diam. Mungkin untuk sebagian orang diary itu gak terlalu berguna tapi bagi saya , diary itu harta dan warisan kepada anak cucu saya kelak. Barangkali saya ditakdirkan menjadi orang besar jadi kalau keturunan saya mau nulis biografi tentang saya mereka gak perlu repot-repot cari kesana kemari, tinggal baca diary saya. Tapi apalah daya.


Seminggu sudah saya libur dan Alhamdulillah hari-hari di bulan Ramadhan ini berjalan mulus dan sesuai rencana saya. Saya berusaha sekuat tenaga membuat to do list supaya hari-hari saya lebih produktif. Yaaa ngaruh la, dopamine saya naik level.

Kisah ini akan dimulai dengan cerita yang teramat lucu buat saya. So, hari kamis lalu di dusun sini bakal punggahan. Pagi hari semua happy , semua berjalan lancar. Makanan untuk punggahan kami siapin, goring-goreng dulu jadi nant sore tinggal masak. Udah goreng opak, motong ayam, goreng-goreng segala macem yang bisa digoreng. Jadi saya udah ngegoreng kerupuk banyak, satu toples. Dah ni . memasuki siang, kita istirahat, kerupuk tadi kita cemilin … ah gak papa la abis nanti tinggal goreng lg. tibanya mau masak. Kopmornya gak bisa idup. Padahal gasnya baru dibeli. Duarr. Itu ceritanya udah jam 3, gak mungkin kan bapak saya ini tidak ikut punggahan, gak mungkin. Coba-coba untuk ngidupin gak idup-idup. Udah jam 4 ni ceritanya. Kami pun beranggapan bahwa kompornya lah ini yang rusak dan memang kompornya udah lawas dah layak ganti. Karna mau cepat. Jadi kami mau beli kompor di sebelah rumah dan ternyata kosong, yaudah pergilah kami ke toko simpang eh ternyata tutup juga. Kalau ke kota ini sore yang ada gak masak-masak. Yauda aku balik ke rumah. Mamak sama dua adik aku udah bersiap – siap masak pake kayu hahahah. Aku join. Masak sampe empat orang. Lucu kaya main masak-masakan. Alhamdulillah kami masih bisa ikut punggahan. 


Besoknya, aku dan Ain ke kota untuk beli kompor, kami pergi jam 11 dan sebelum zuhur kami dah jalan pulang. Tapi tapi tapi hujan. Kami terpaksa berenti di indomaret untuk mengamankan kompor baru kami. Dan alhasil kami baru bisa pulang jam setengah tiga. Untungnya itu hari jumat jadi walaupun kami gak masak kami dapet nasi umat ( Pandu ngambil nasi umat 4 sepulang sholat jumat ). Sungguh laknat.

Udah seneng ni udah punya kompor baru. Kami bersihin meja kompor dulu dong, kira-kira yaaa 30 menit la sambil hahahihi. Jam tiga sore kami pasang gasnya. Voallla tidak hidup. Apinya gak mau naik. Apa – apaan ini. Oke apa jadi yang salah … apa ? dan kami beranggapan bahwa selangnya yang rusak. Oke akhirnya sore itu juga aku beli selang dan kepala baru. Dari semua ini setelah di cek dan ricek yang rusak ternyata hanya kepalanya saja … ingin ku berkata kasar. Ada untungnya juga si, akhirnya kami beli kompor lagi setelah bertahun tahun.

Sekarang kita memasuki sesi kedua, jadi di korea ada sebuah program televisi yang berjudul I Live alone, yang merekam kegiatan artis yang tinggal sendirian. Mostly si kegiatan mereka sama seperti orang-orang lain pada umumnya. Cuma ya pasti rumah mereka jauh lebih mewah. 



Aku suka liat show ini karena relaxing gitu. Liat manusia lain bersih-bersih. Episode kesukaan aku tu episodenya Hwang Min Hyun. Si manusia paling rapid an bersih. Gak bohong satisfaing amat nonton beliau bersih-bersih. Dia bilang dia suka bersih bersih rumah kalau lagi libur karena menenangkan jiwa. BTW. I think I feel the same. aku suka beberes rumah, masak, beres-beres. Secara garis besar pekerjaan-pekerjaan IRT itu nyenengin buat aku. Aku  juga suka hidup simple. Kerjaan bukan kerjaan yang berat. Ya kaya gini. Banyak liburnya dan waktu libur aku pake seefektif mungkin. Aku suka tinggal di lingkungan pedesaan kaya gini, walaupun kadang aku suka ngeluh karena jalannya jelek, tapi jalan jelek ini bikin efek pedesaan jadi lebih autentik. Udara pagi disini seger. Suka deh pokoknya simple life gini. aku juga suka momen waktu mencuci baju. Nyuci baju sambil rileksasi. Merendam dengan diterjen, mengucek, membilas sampe menjemur bahkan sampe melipat dan menyeterika pun aku suka. Aku suka ngelakuin itu. Aku tu bahkan puas kali kalo misalnya cucian aku tu bersih, lembut dan wangi di akhir. Sekali lagi kegiatan ini naikin mood dan rasa seneng.

 

Hidup sederhana adalah hidup yang bahagia “ 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lika Liku Melajang

Sebuah Tulisan Tentang ..... CORTIS

Money , Money, Money ….