Money , Money, Money ….

 


Ini adalah realitas yang teramat menyedihkan. Sekarang udah tanggal 6 Januari dan plot twistnya, diriku belum gajian untuk bulan Desember. Duaarr. Begini amat ya hidup sebagai tenaga pendidik di bumi pertiwi. Biasanya, orang tu gajian sebelum liburan, kalau aku kebalik, libur dulu tapi gajiannya entah kapan. Lucu kan? Iya… silahkan tertawa.

Kalau kita lihat di sekitar kita, sekarang menjamur sekolah sekolah swasta yang berdalih “IT”, dan biasanya sekolah ini dikelola oleh yayasan yang ketua yayasannya itu adalah seorang Politisi, gak tau apa alasannya, tapi pola ini sering aku jumpai. Memang gak semua, ada juga beberapa Yayasan yang dikelola oleh keluarga atau pengusaha. Nah, tempat aku mengajar adalah sekolah swasta yang dikelola oleh seorang politisi. Seperti janji yang pernah beliau ucapkan, bahwa guru-guru disini paling lama menerima gaji bulanan setiap tanggal 5…LIMA… dan ternyata beliau malah mengingkari janjinya. Mungkin salahku ya, seharusnya aku tau bahwa SOP seorang politisi adalah “Pandai memberi janji palsu” dan kata-kata manis seperti ini seharusnya tidak usah dipercaya. Aku juga mau memberi satu fakta, bahwa dulu, aku dan teman-temanku pernah dua bulan tidak digaji, gajiannya di rapel. Dirapel dua bulan. Kalau diingat-ingat lagi sekarang seperti tidak percaya, kemarin itu aku makan pakai apa ya ? kok bisa gak gajian dua bulan.

Hahaha sudahlah, hal seperti ini tidak usah dikomentari, cukup diketawain aja.

Di usia yang sekarang ini, rasanya tidak mungkin ada manusia yang bekerja karena passion. Kalaupun ada pasti tidak banyak. Semua dilakukan karena duit. Termasuk saya. Tai kucinglah yang dulu bilang tamat kuliah cari kerja gaji dua digit. Sekarang liat nih, belum juga tanggal dua puluh dompet dah kaya rumah hantu. Kosong. Btw ini udah tanggal sebelas, kami gajian tanggal tujuh kemarin.


Aku gak bisa munafik sekarang. Aku memang sebutuh itu sama duit. Makan, aku suka jajan. Semua jajanan wajib dicoba. Makeup, lipen berbagai merk kalau udah abis di lemari, gak bisa kalau gak beli lagi. Skincare, aku udah nemu merk dan jenis skincare yang sesuai sama kulit aku, jadi ini gak bisa di skip. Motor, cicilan motor harus dibayar tepat waktu kalau gak mau kena denda, belum lagi biaya oli tiap bulan dan bensin tiap minggu. Listrik, paket, dan embel-embel lain. Jadi untuk sekarang ini aku gak bisa denger “semoga tenaga dan kebaikan kalian dibayar dengan amal jariyah” . ya aku mau si dibayar pake amal jariyah, tapi kan beli paket pake duit ya gak pake pahala.

denger - denger supir MBG bakal di angkat jadi P3K. nangis gak tu. guru-guru yang mati matian ngedidik kalah sama gaji supir. mampus. makin aneh aja udah negeri aku ini. kerja di tempat yang aneh dan berada di negara yang aneh. Akhirnya ... sudahlah Madah, cuman di ketawain. mungkin nanti akan ada rezeki di tempat lain.

balik lagi ke duit. coba kamu bayangin kalau kamu tu punya gaji yang layak, duit kamu melimpah. Kamu bisa membahagiakan bukan cuman diri kamu aja tapi juga orang-orang kesayangan kamu. Kalau aku punya gaji dua digit, mungkin mamak udah aku beliin tv baru, gak bakal nonton pake tv yang tiba-tiba ilang gambarnya. Ke banyak tempat, travelling. Selain itu, dengan duit kita juga bisa hidup layak... no no lagi minta orangtua cuman untuk beli paket. Tapi kayanya melihat kehidupan aku dan temen-temenku yang sekarang sering nelangsa, aku makin yakin di masa depan kami kayanya jadi miliarder. yah semoga diijabah.

Tapi balik lagi, walaupun diriku ini uangnya tidak lah sebanyak cintaku pada kawanku, tapi alhamdulillah dengan gaji segini, aku bisa nyicil beli motor dan bisa membiayai uang makan nongkrong bersama konco. Dan yang paling penting, alhamdulillah pekerjaan aku sekarang tidak mengurangi keimanan dan tidak menghalangi ibadah harian.

Mungkin setahun atau dua tahun ke depan Madah akan mendapat tempat kerja dengan gaji yang jauh di atas kata layak dan pekerjaannya tidak menghalangi beribadah.

"walaupun gaji setinggi bukit, kalau tak sembahyang apa gunanya...."

Komentar

Posting Komentar