Being A Teacher : Refleksi Seorang Pengajar
Nama
saya Madah. Tahun ini adalah tahun kedua saya mengajar Sekolah Dasar. Dalam waktu
yang singkat ini, saya melihat bagaimana anak-anak bangsa tumbuh. Mungkin saya
belum berkelana ke semua sekolah yang ada di Indonesia, tapi setidaknya
beberapa sekolah tempat saya mengajar bisa dijadikan contoh.
Menurut
saya, anak-anak kita memang sangat membutuhkan pendidikan karakter. Sebagai seorang
pendidik Sekolah Dasar, proyek terbesarnya adalah membentuk karakter seorang
anak yang berbudi pekerti dan berakhlah mulia. Jika kita mendapat anak yang
jenius atau pintar itu adalah sebuah bonus.
Kata pepatah Adab lebih tinggi daripada
ilmu
Tadi pagi
saya berselancar di dunia maya dan menemukan video seorang murid menyembunyikan
kunci sepeda motor milik gurunya dan mengejek sang guru. Sungguh miris bukan ?
Saya paham mungkin saat sekolah kita kerap kali bertemu dengan guru yang galak
atau bahkan sedikit menyebalkan yang
membuat kita merasa jengkel. Tapi itu bukan alasan untuk tidak menghormati
orang yang telah mendidik kita. Harus diingat bahwasannya mereka lebih tua dan
sudah seharusnya kita hormati.
Kenapa
anak bisa seperti itu ?
Banyak
sekali faktor yang memengaruhi, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan
tempat tinggal hingga lingkungan pertemanan. Jadi hal-hal tersebut tidak
seratus persen salah sekilah dalam mendidik.
Terkadang
saat kita sudah mengajarkan hal-hal positif pada anak, orang tua tidak
melakukan hal yang sama. Maka dari itu kita sebagai guru perlu membangun
komunikasi sehat bersama orang tua murid. Anak bisa berkembang dengan baik jika
adanya kerja sama antara guru dan orang tua. Berulang kali setiap bertemu
dengan orang tua murid saya melihat bahwa mereka sering sekali memberi label
pada anaknya “kamu anak nakal, pemalas…”
dan kata-kata negative lainnya, hal tersebut bisa membuat anak malas
bereksplorasi bahkan membuatnya menjadi rendah diri. Saya tidak meyalahkan
orang tua, setiap saya bertemu dengan mereka saya melihat wajah kelelahan,
kejadian seperti ini juga pertama kali buat mereka, karena ini juga pertama
kali mereka jadi orang tua.
Selanjutnya,
setiap tahun jumlah anak yang belum bisa membaca diusia kelas satu SD semakin
bertambah. Saat pertama kali saya mengajar, kondisi ini sangat mengherankan
kenapa masih banyak anak yang belum bisa membaca bahkan saat mereka sudah duduk
di kelas tiga. Hal seperti ini sangat merugikan, karena anak bisa ketinggal
pelajaran. Tapi lama kelamaan saya mengerti bahwa fase anak berbeda-beda. Bahkan
dari cerita guru-guru lain ada anak yang saat kelas satu dan dua sangat buruk
dalam belajar tetapi saat memasuki kelas tiga menjadi sangat baik dalam belajar
bahkan bisa mengejar ketertinggalan di tahun-tahun sebelumnya.
Setiap anak punya fasenya masing-masing
Kalau masalah
yang satu ini mungkin bukan masalah saya saja, kami para guru Sekolah Dasar
sering menemukan anak yang malas belajar dalam beberapa mata pelajaran. Semua itu
bisa dijawab dengan singkat, mata pelajarang yang harus dikuasai terlalu
banyak. Sebut saja Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS belum lagi muatan
lokal. Sejujurnya saya sangat menyukai konsep kurikulum 2013 dimana semua mata
pelajaran dirangkum menjadi satu dalam K-13, lebih mudah untuk diajarkan dan
tidak memusingkan anak-anak yang masih berada di kelas rendah, tapi kita harus
selalu mengikuti peraturan yang sudah ada. Anak-anak juga sama seperti kita,
ada yang mereka sukai dan ada yang tidak. Sebagai seorang guru, kita harus tau
apa kelebihan sang anak. Mata pelajaran apa yang dominan sehingga bisa mereka
dalami untuk kedepannya.
Terakhir,
literasi yang minim. Kerap kali saya temukan anak yang pandai menulis. Tulisannya
rapi, cantik dan sudah bisa membaca, namun saat saya tanya apa isi dari tulisan
itu, dia tidak tahu. Rendahnya literasi artinya bukan tidak bisa membaca tapi
tidak bisa memahami apa isi dari bacaan. Sayangnya itu yang dialami anak-anak
kita saat ini. Menurut saya penting sekali untuk menumbuhkan kesadaran
pentingnya literasi pada anak. Untuk mengatasinya, sudah ada beberapa sekolah
yang melakukan kebiasaan literasi sebelum KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Sayangnya
kegiatan ini hanya dilakukan seminggu sekali, alangkah baiknya kegiatan ini dilakukan
setiap hari. Selain melakukan literasi setiap pagi, kita harus mengoptimalkan
peran perpustakaan sekolah dengan membuat perpustakaan menjadi tempat yang
lebih menarik lewat penyusunannya dan interior yang membuat nyaman. Seringkali saya
jumpai perpustakaan hanyalaah rak-rak buku yang disusun memanjang dengan meja
yang biasa saja, membuat kita mudah bosan. Orang dewasa saja bosan apalagi
anak-anak. Tidak ada salahnya jika diberi warna warni dan bentuk-bentuk yang
lebih bervariasi.
Sebagai
penutup, saya tidak pernah bercita-cita sebagai guru tapi pekerjaan ini
memberikan saya pelajaran yang sangat banyak terutama tentang memahami pola
pikir anak dan emosi mereka. Pengalaman ini juga saya jadikan sebagai bekal
kalau saya sudah jadi orantua nantinya. Terimakasih anak-anak ^^.
Keren, semangat kak Madah 🥰
BalasHapustulisan yang sangat menarik 👍🏻 semoga dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru muda diluar sana, agar dapat terus semangat mencurahkan ilmu kepada generasi penerus bangsa tercinta kita ini. adapun kutipan berupa saran, yang semoga, juga dapat menjadi acuan untuk kita semua sama-sama membenahi sistem pendidikan, agar kedepannya dapat semakin membaik dan terarah sesuai dengan sistem yang ada.
BalasHapusKeren, bagus banget, banyak orang perlu baca ini, semangat kak Madah
BalasHapusSebuah profesi yg pasti sangat melelahkan, harus penuh kesabaran. Tapi dari sinilah awal mula karakter anak2 dibangun. Semoga guru2 di Indonesia mendapat benefit yg layak supaya kualitas pendidikan anak juga semakin baik.
BalasHapusMasyaAllah......
BalasHapus