Berlebel “ Anak Muda”
Kenapa di
umur yang teramat muda aku sering bernostalgia akan kenangan yang sebenernya
masi seumur jagung? Kenapa diusia yang baru menginjak kepala dua awal aku sudah
merasa kehilangan banyak moment? kenapa anak seiusiaku lainnya sudah memahami
diri sendiri dan mimpinya? Apakah aku sebegitu telat?
Pertanyaan-pertayaan
yang intinya membahas tentang insevurity akan usia, membandingkan diri sendiri
dengan orang lain yang seusia namun ‘lebih’ dalam beberapa hal. Pencapaian anak
muda lain sebenarnya memotivasi atau malah membuat kita merasa tertinggal dan
akhirnya berujung kesedihan.
Sejujurnya aku gak tau menyikapi perasaan ini.
Dalam lagu Adam Levine “ Lost star” ada lirik tell us the reason youth is wasted on the young, its hunting season and the lambs are on the run….. dulunya kita Cuma nyanyiin aja itu lagu, sendu, asik denger suaranya Adam. Tapi ternyata lagu itu teramat bermakna. Bertanya-tanya kenapa anak muda menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna di masa mudanya, padahal masa itu lah waktunya berburu. Lagu ini diawali dengan lirik please don’t see just a boy caught up in dreams and fantasies, please see me reaching out for someone I cant see…. Seolah Adam mau bilang, ngapain si terjebak dalam mimpi-mimpi dan fantasi semata, lebih baik mengejar sesuatu yang ya mungkin mustahil kita raih tapi itu lebih bermakna dari hanya sekedar bermimpi.
Sebenarnya
punya lebel anak muda di punggung itu berat. Karena kita memegang mimpi yang
tinggi dan terkadang terbentur oleh reality. Belum lagi masalah yang berkecamuk
dalam diri dan dari luar.
Sylvia
Plath, salah seorang penyair dan novelis asal Amerika yang hidup sekitar tahun 1950-an,
menulis sebuah novel berjudul “ the bell jar” yang menceritakan tentang
keseharian gadis bernama Esther, yang sedang mengalami gangguang depresi yang
sangat berat, serta penggambaran dunia yang menurutnya lucu. Dalam Novel itu
terdapat kutipan “ dari setiap ujung
cabang, seperti buah ara yang ranum, masa depan yang cerah terisyaratkan nan
samar… tetapi apabila memilih salah satu berarti akan kehilangan yang lain ,
dan, sembari aku duduk disana, tak mampu untuk memutuskan, buah ara yang
menggantung mulai mengerut dan membusuk, satu per satu mereka menimpa kakiku”.
Dari kutikan itu, Sylvia menggambarkan gadis muda yang sedang membayangkan masa
depannya yang seperti tak menentu. Ketakutan tentang arti dari ‘ menjadi bebas’
dan kemungkinan memilih sebuah pilihan yang salah.
Kalimat
itu bukan hanya sekedar kutipan novel jadul tentang perempuan depresi. Tapi adalah
sebuah penggambaran realita yang dihadapi anak muda. Kita punya mimpi dan
kemungkinan mimpi itu lebih dari satu. Tanpa disangka ternyata meraih itu tidak
mudah sehingga kita harus meninggalkan mimpi-mimpi lain dan mengejar yang
pasti. Tapi kita juga takut jikalau jalan yang kita pilih salah.
Pertanyaan
yang muncul dalam benak kita pasti bukan soal itu saja. banyak
pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul, dan pertanyaan-pertanyaan itu hanya
bisa dijawab oleh kita sendiri seiring berjalannya waktu. Bagaimana kehidupan
kedepannya? Kamu yang menulisnya dan bukan sebuah pertanyaan yang ditanyakan
kepada orang lain.
Sering kali kita iri
melihat pencapaian orang lain. Tapi selalu ingat bahwa jangan pernah berharap
jadi orang lain. Jadilah diri sendiri. Jangan ubah mimpimu hanya karena orang
lain. Kamu adalah kamu. Hilangkan rasa takut dan cemas itu. Yakinlah bahwa gak
ada yang terlambat. Kamu bisa melakukan banyak hal diluar apa yang kamu bisa. Pegang
dadamu dan rasakan hatimu. Tanyakan pada hatimu apa yang paling kamu inginkan
dan kamu harus mengejarnya mulai besok. Aku mengandalkan kamu. Wink ;)

♥️♥️♥️
BalasHapusThis is exactly what i need, seperti tulisannya mendengar isi kata hati ku dan pikiran ku, lalu dijelaskan dengan tepat, makasih is
BalasHapus🌺🌺
BalasHapusAdem bacanya, ngerasa lagi ga berjuang sendirian, lofyu mbak
BalasHapus