King George VI : Sosok dibalik film the king’s speech
Selamat
siang. Hari ini aku mau membahassalah satu tokoh, seorang Raja Britania Raya,
yaitu King George. Kalau teman-teman sekalian searching dengan kata kunci ‘Raja
George VI’ maka akan banyak sekali artikel yang keluar mengenai “ pria gagap
yang menjadi raja”, kisah dari Raja George VI ini juga diangkat ke layar lebar
dengan judul “ the king’s speech “ pada tahun `dengan Colin Firth berperan
sebagai King George VI, dan karena perannya ini dia berhasil membawa pulang
piala Oscar sebagai actor terbaik. Tapi kali ini kita gak akan membahas film
the kings speech melainkan tokoh utamanya yaitu king George VI.
Sebenernya
aku tu tau tentang king George pertama kali dari serial the crown. Pengennya
tuh nonton serial the crown season 4 karena aku kepo sama kisahnya Charles dan
Diana, tp kayaknya gak seru kalo langsung nonton season 4 entar gak tau siapa siapa aja tokohnya, jadi aku
memutuskan untuk nonton dari season satu, eh aku malah tertarik sama kisahnya
King George yang cuman diceritakan sampe episode ketiga karena memang bukan dia
tokoh utamanya. The crown sendiri merupakan kisah perjalanan Queen Elizabeth II
sebagai seorang Ratu.
Albert si gagap
(albert muda)
King
George VI lahir dengan nama lengkap Albert Frederick Arthur George pada 14
Desember 1895 di pondok York, rumah sandringham, Nortfolk, Inggris pada masa
pemerintahan nenek buyutnya yaitu Queen Victoria. Albert lahir bertepatan
dengan peringatan 34 tahun meninggalnya kakek buyutnya yaitu King Albert (suami
Queen Victoria). Kakek dan nenek Albert prince dan Princess Wales ( kemudian
dikenal dengan King Edward VII dan Queen Alexandra) , ayah dan ibunya dalah
adipati dan permaisuri York ( kemudian dikenal dengan King George V dan Queen
Mary ). Jadi saat lahir, Albert ini menempati urutan ke 4 dalam tahta Inggris
setelah kakek, ayah lalu abangnya yaitu David (kemudian dikenal dengan King
Edward VIII).
Karena beliau lahir bertepatan dengan hari kematian kakek buyutnya, maka prince wales (King Edward VII) menyarankan pada adipati York (King George V) untuk meminta izin pada Queen Victoria agak anaknya diberi nama Albert, sesuai dengan nama kakek buyutnya. Mendengar itu pun Queen Victoria merasa senang dan mengatakan ,” aku tidak sabar menanti albert yang baru yang terlahir pada hari yang sedih namun menjadi kebahagiaan buatku, karena dia akan dipanggil dengan nama kesayangan dimana nama tersebut bagiku adalah nama yang paling hebat dan bagus “, jadi gais, Queen Victoria ini sangat mencintai mendiang suaminya sampai-sampai dia sering sekali membuat monument-monumen untuk mengingat suaminya itu. Hal tersebut juga menjadi alasan kenapa Queen Victoria sering menggunakan baju hitam dan selalu memakai kerudung janda.
Albert
dipanggil Bertie oleh keluarga dan teman-teman dekatnya, merupakan anak kedua
dari empat bersaudara. pada waktu kecil dia sering sakit-sakitan dan anak yang
penakut, mudah ditakut-takuti dan mudah menangis. Dia juga memiliki kondisi
gagap yang tidak hilang sampai bertahun-tahun lamanya. Bertie kecil juga
memiliki penyakit kronis pada perutnya karena terlalu sering menggunakan bidai
penegak untuk meluruskan postur kakinya yang bengkok.
Beranjak
dewasa, Albert berkuliah di trinity college, cambrige untuk mempelajari
sejarah, ekonomi dan ilmu kewarganegaraan selama setahun. Selama perang dunia
I, Edward juga aktif mengikuti sekolah AL dan AU. Pada 4 Juni 1920 (seratus
tahun yang lalu cuy) ayahnya memberikan gelar Adipati York, Earl Inverness dan
Baron Killerney. Setelah itu ia sering menggantikan ayahnya dalam tugas
kerajaan. Karena tugasnya yang sering berada di area industri, dia mendapatkan
julukan “ pangeran industry”. Kondisi gagapnya ditambah dengan pribadinya yang
cenderung pemalu membuatnya tidak terlalu sering tampil didepan umum seperti
kakaknya, Edward. Namun, ia suka aktivitas fisik dan sangat suka bermain tenis.
Melamar ditolak dua kali
Dulu seorang anggota kerajaan itu diharapkan bisa menikah dengan seorang yang berasal dari kalangan raja juga. Seorang bangsawan juga gak boleh menikah dengan seorang janda apalagi janda yang mantan suaminya masih hidup, tapi ini dulu ya dulu. Karena aturan itu, maka Albert yang pada saat itu tertarik dengan seorang sosialita Australia, membatalkan niatnya untuk mendekati wanita itu, di tahun yang sama yaitu tahun 1920, dia bertemu dengan Lady Elizabeth Boues Lyon dan langsung jatuh cinta. Elizabeth seperti kebalikan dari Albert, seorang yang hangat, percaya diri dan pandai bersosialisasi. Tahun 1921 Albert melamarnya, namun Elizabeth menolak karenaia takut kehilangan kebebasannya untuk bergaul, tahun berikutnya Albert mencobanya lagi namun tetap ditolak hingga akhirnya Albert diterima pada lamarn yang ketiga tahun 1923.merekapun menikah pada 26 April 1923 di westmister abbey. Pada waktu itu, BBC baru dibentuk dan berniat untuk menyiarkan pernikahan Albert dan Elizabeth namun ditolak. Setelahnya kehidupan mereka berlangsung bahagia dengan dikaruniai dua orang anak yaitu Elizabeth ( dipanggil Lilibeth) yang lahir tahun 1925 dan Margareth (dipanggil Margot) yang lahir tahun 1930. Mereka tinggal di rumah pribadi mereka di Picadilly, London.
Namun
di tahun 1936 semuanya berubah…
Tidak Pernah Membayangkan Akan Jadi Seorang
Raja
Kekhawatiran melanda keluarga
kerajaan Inggris kala pewaris tahta mereka yaitu Prince Edward, kakak Albert,
sembrono dan gila main perempuan. Raja merawa kecewa dengan putranya yang gagal
mengendalikan hidupnya, merasa jijik dengan hubungan Edward dengan wanita yang
sudah menikah dan khawatir kalau tahta sudah jatuh ke tangan Edward.
(king
Edward VIII dan kekasihnya, Wallis Simpson)
Raja George V menulis, “ setelah aku
meninggal, anak itu (Edward) akan menghancurkan hidupnya kurang dari 12 bulan.
Aku berdoa kepada Tuhan agar anak sulungku tidak pernah menikah dan tidak
memiliki anak, maka dari itu tidak ada halangan bagi Bertie dan Lilibeth untuk
naik tahta Inggris”. Raja George sendiri lebih suka kalau Albert dan
keturunannya yang naik tahta.
Sebanernya udah keliatan juga kalo
Prince Edward bakalan meninggalkan tahtanya, dia juga sering menggoda istri
Albert dengan memanggilnya Ratu Elizabeth. Dan benar saja, saat ayahnya
meninggal dan dia resmi jadi Raja, belum genap setahun dia mundur dari
posisinya sebagai raja karena dihadapkan pilihan untuk menjadi raja tapi
meninggalkan wanita yang dia cintai (seorang janda asal amerika, Wallis
Simpson) atau mundur dari tahta. Sudah jelas dia tiadk akan meninggalkan
Wallis. Maka pada tanggal 11 Desember 1936, dia menyatakan kemundurannya dengan
kata-katanya yang terkenal.
(pengunduran
diri Edward sebagai raja)
“ mendeklarasikan tekad bulat saya
untuk meninggalkan tahta ini untuk saya dan keturuanan saya………… saya merasa
bahwa tidak mungkin bagi saya untuk mengemban tanggung jawab yang berat dan
menjalankan tugas sebagai raja tanpa dukungan dari wanita yang saya cintai…….
Keputusan ini benar2 dari saya sendiri dan orang lain yang terlibat telah
berusaha untuk membujuk saya untuk mengambil jalan lain,” (budak cinta
ternyata)
Setelah itu, albert langsung menemui
ibunya yaitu Ratu Mary, dalam buku hariannya tertulis, “ ketika aku menyatakan
pada ibu apa yang terjadi, aku merasa hancur dan menangis terisak seperti anak
kecil.” Tahta pun secara resmi jatuh ke tangan Albert yang sebenarnya kurang
siap. Bahkan di penjuru Inggris tersebar gossip bahwa Albert secara fisik dan
Psikis tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas sebagai Raja. Albert
sendiri juga sebenarnya menkhawatirkan hal tersebut.
Namun dengan segala kekurangan dan
pandangan miring orang-orang,beliau membuktikan bahwa dia bisa dan mampu bahkan
melebihi raja-raja sebelum beliau. Untuk menegaskan kekuasaannya, Albert pun
dipanggil dengan King George VI, diambil dari nama belakangnya. King George VI
memimpin selama masa perang dunia II, dimana dia tetap tinggal di istana untuk
menunjukkan bahwa mereka (keluargakerajaan) tetap bersama rakyat selama London
diserang, walaupun semua orang sudah mewanti-wanti untuk pergi demi keselamatan
mereka. King George Vi juga raja Inggrispertama yang mengunjungu amerika,
tujuannya untuk memperkuat aliansi dalam bayang-bayang PDII yang semakin dekat.
(Raja
dan Ratu yang sering blusukan)
Beliau juga sangat dekat dengan
perdana menterinya yaitu Winston Churchill dan disebut sbg “hubungan personal
terdekat dalam sejarah Inggris modern antara monarki dan perdana menteri”,
mereka juga sering makan bareng dan mendiskusikan perang baik secara rahasia
ataupun terbuka, king George Vi menuliskan semua diskusi tersebut dalam buku
harinnya. Raja dan Ratu juga sering mengunjungi wilayah-wilayah si penjru
Inggris dan Negara-negara lain semasa perang menjadi simbolperlawanan nasional.
Masih banyak lagi hal-hal yang dilakukan oleh King George VI selama masa
pemerintahannya.
Ratu Elizabeth: Sang Istri yang Menjadi kunci
Queen Elizabeth adalah wanita yang
hangat, karismatik dan lihai. Dia juga paham pentingnya membuat citra keluarga
dan keamanan untuk kerajaan, ketika dia jadi ratu, dia jadi orang yang berada
dibalik kesuksesan King George VI, membantu mengubah suaminya dari putra kedua
yang gagao dan tidak percaya diri menjadi raja yang dicintai dan dihormati.
Karena kondisinya yang gagap menghalangi Raja George VI untuk bicara didepan
umum, dia sangat menghindari hal tersebut, setelah pidatonya pada oktober 1925
yang dianggap sebagai cobaan berat baginya dan orang-orang yang mendengarnya.
Elizabeth menyarankan nya untuk melakukan terapi bicara, Elizabeth juga yang
mencarikan terapisnya dan menemukan logue sebagai terapis King George. Setelah
beberapa lama, George VI akhirnya bisa bicara di depan umum dengan lebih
percaya diri.
Akhir Hidup
Raja George VI adalah seorang
perokok berat ditambah lagi hari-hari yang berat selama menjadi Raja membuatnya
perlahan jatuh sakit. Beliau memiliki penyakit kanker paru-paru, arterioskerosis,
dan penyakit buerger. Selama sakit, putri sulungnya, Lilibeth, sebagau pewaris
tahta mengambil alih tugas ayanhnya bersama suaminya, Philip.
(Raja
Geroge VI di Bandar udara kala mengantar Putrinya)
Pada 31
Januari tahun 1952, Lilibeth dan Philip yang akan melakukan tour ke Australia
melalui Kenya diantar ke Bandar udara London oleh keluarganya, termasuk sang
Raja, walaupun Raja sudah dilarang karena kesehatannya yang menurun namun dia
tetap bersikeras untuk ikut mengantar putrinya. Dan pada kesempatan itulah
terakhir kali sang Putri bertemu dengan Raja. Rekaman Raja yang mengantar
Lilibeth di bandara udara pun diberi judul ‘last farewell’ yang sekarang bisa
di lihat di “British Phate”. Pada 6 Februari 1952, pukul 07:30 GMT pagi, sang
Raja ditemukan meninggal di tempat tidurnya di sandringham house, Nortfolk. Lilibeth
dan Philip yang berada di Kenya langsung pulang, Lilibeth yang perginya
menyandang gelar Putri kini pulang dengan sebutan Queen Elizabeth II.
Setelah
king George VI meninggal, perdana menteri Winston Churchill, membuat pengumuman
di radio dengan pidatonya yang terkenal:
During these last months, the King walked
with death as if death were a companion an acquaintance whom he recognized and
dit not fear and after a happy day of sunshine and sport and after goodnight to
those who loved him best he fell asleep at everu man or woman who strives to
fear god and nothing else in the world may hope to do I could youth with past
in august. unchallenged and fraquil glories of the voctorian era may well feel
the thrill in voking once more the prayer and the athem God save The Queen.
Beberapa bulan terakhir, Raja berjalan
dengan kematian seolah kematian adalah seorang pendamping yang amat dia kenal
dan tidak ia ditakuti, dan setelah hari yang bahagia dibawah sinar matahari dan
olahraga dan setelah menhabiskan malam dengan orang-orang yang paling ia cintai, dia tertidur saperti
setiap orang yang berusaha untuk takut kepada tuhan dan tidak ada yang lain di
dunia ini, hal yang saya harap bisa saya lakukan pada bulan agustus saat saya
remaja. Kemuliaan yang tak tertandingi dan penuh kekuatan di era victoria,
sensasi itu mungkin akan terasa lagi, doa-doa dan nyanyian lagu “God Save The
Queen”
sekian













Menginspirasi sekali ya bund
BalasHapus