Mengejar subuh

MENGEJAR SUBUH
By: madah islami

Tepatnya di saat matahari merindukan bulan, di antara lelap dan sadar aku membuka mata . Tepatnya jam tujuh pagi, aku terbangun tiga puluh menit sebelum berangkat ke kantor dan memasuki duniaku yang penuh kesibukan. Tiga puluh menit adalah waktu untuk mempersiapkan diri, dimulai kegiatanku dari mandi, masak, makan, dan sebagainya. Tentu aku melakukannya sendiri, walaupun aku laki-laki. Ini sudah menjadi rutinitasku selama enam tahun terakhir semenjak aku merantau ke luar kota.
            “Fajar anakku??!!,  Pagi-pagi sekali sudah mencuci baju!” ungkap pak Dirman, dia adalah tetanggaku, usianya sudah lebih dari setengah abad namun dia masih gagah dan tegap. Seperti biasa dia baru pulang dari mesjid setelah melakukan kewajibannya “shalat subuh, aku hanya bisa tersenyum manis jika dia sudah menyapa. Terlintas di pikiranku untuk rajin beribadah seperti beliau menghabiskan banyak waktu di mesjid, shalat tepat waktu. “Tapi sudahlah mungkin nanti kalau aku sudah seumuran pak Dirman” terlintas di benakku.
            Fajar, itu namaku. Siapa yang tidak mengenal yang namanya Fajar di dunia perkantoran. Bekerja di perusahaan yang yang besar, kecerdasanku membuatku mudah meniti karir. Diusiaku yang baru menginjak dua puluh sembilan, karirku sudah melonjak. Siapa yang tidak kenal Fajar, anak ingusan yang bekerja seperti orang kesetanan. Tak pernah bosan dengan segala presentasi, dan selalu bersemangat setiap ada diskusi. Aku bekerja sepuluh jam sehari kadang sampai empat belas jam sehari. Semua orang bilang aku sosok yang sempurna. Kata mereka aku cerdas. Tentu saja, aku lebih cerdas dari siapapun. Kata mereka aku punya wajah menawan. Tentu saja, aku lebih gagah dari siapapun. Kata mereka aku baik. Tentu saja, aku lebih baik dari siapapun. Kecintaanku kepada olahraga membuat tubuhku selalu prima. Atletis. Aku tidak mudah sakit. Tapi semua orang yang punya kelebihan pasti punya kekurangan. Aku sangat sulit bangun pagi. Aku juga tidak ingat kapan terakhir kali melaksanakan shalat subuh. Tubuhku sangat lelah untuk bangun pagi. Walau ada alarm,tetap tidak mempan.
Hari ini aku akan menjumpai klienku, orang singapura dan sangat suka menjelajahi hutan. Untuk menarik perhatian, aku berencana mengajaknya menjelajahi hutan sumatera beberapa hari kedepan. Dan benar saja, dia menyetujui rencanaku itu.
            Dua hari kemudian aku dan dia benar-benar berangkat ke sumatera untuk melakukan rencana kami. Ada beberapa orang yang ikut mungkin berjumlah tujuh orang. Kami memulai perjalanan pada pagi hari.
            “Baik Fajar, kamu sudah siap?” ucap klienku itu. walaupun dia orang singapura, negara yang dipenuhi oleh orang dari beragam negara tapi klienku ini pandai berbicara bahasa Indonesia dengan logat melayu yang sangat kental.
            “Tentu aku siap. Walau belum pernah.” Aku tertawa.
Awal perjalanan sangat menyenangkan, banyak hewan-hewan yang belum pernah aku temui dan semuanya terlihhat sangat menawan. Tiga jam perjalanan aku belum merasa lelah, beda dengan teman-teman yang sudah loyo. Klienku pun semakin memujiku. Istirahat tigapuluh menit untuk shalat dzuhur. Ya shalat dzuhur. Aku memang jarang sekali mengerjakan subuh atau bahkan tidak pernah, tapi aku selalu tepat waktu mengerjakan shalat yang lain. Aku akan meninggalkan makan siangku untuk mengerjakan dzuhur. Aku akan berlari tergopoh-gopoh untuk mengerjakan magrib yang sudah diujung waktu. Entah mengapa ada sedikit penyesalan kalau meninggalkan mereka berempat, lalu apa gunanya subuh bagi diriku, aku belum bisa menjawabnya.
            Sudah menjelang sore, waktunya shalat ashar. Selesai shalat aku izin pada teman-teman untuk mengambil air di sungai yang tadi kami lewati. Ada yang menawarkan diri untuk menemani tapi  aku menolak. Aku berjalan sendiri kesana. Sehabis ini aku akan mendapat penawaran besar dari klien itu, mungkin karirku akan semakin melambung.
Tiga botol yang kubawa sudah terisi penuh, saatnya kembali. Aku berjalan sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah klienku menerimaku sebagai rekan kerjanya, mungkin aku akan membongkar tabungan dan membuka perusahaanku sendiri, atau membeli rumah untuk masa depanku. Entahlah. Sudah sepuluh menit lebih aku berjalan tapi tidak melihat batang hidung teman-temanku. Apa aku tersesat? Tidak mungkin, aku bisa mangingat dengan baik tidak mungkin aku tersesat. Tidak mungkin, aku sudah satu jam lebih berjalan dan hanya berputar-putar disini, seharusnya hanya lima menit. Aku tersesat. Sungguh aku tidak suka ini, aku tidak takut, tidak bingung. Sambil berjalan aku terus berpikir, aku pasti keliru mengambil jalan tadi.
Sudah hampir magrib. Aku sedang istirahat di bawah pohon, aku tidak menyangka ini terjadi. Seorang Fajar yang begitu cerdas bisa tersesat. Apa yang sedang dilakukan teman-teman, mungkin mereka mencariku, mereka pasti sangat khawatir. Heh, aku jadi ingat dulu waktu aku masih sembilan tahun, aku pernah terlambat pulang sampai magrib, keasikan main layang-layang bersama Surya, sahabat karibku. Saat itu kami terlalu asik mengulur benang layangan sampai terdengar suara adzan. Surya mengajakku untuk shalat magrib dulu ke mesjid setelah itu pulang. Tapi ayah dan ibu berpikir aneh-aneh, menganggap kami dicuri wewe gombel. Hari itu semua orang berkeliling kampung untuk mencari aku dan Surya. Ibu menangis tersedu-sedu saat menemukanku di mesjid. Aku selalu tertawa setiap mengingat kejadian itu, kejadian yang membuatku rajin shalat magrib.
Selesai magrib aku memutuskan untuk tidak berjalan. Aku terlalu lelah apalagi aku belum makan, hanya minum. Habis magrib begini biasanya anak-anak banyak yang mengaji, aku dulu pun begitu. Mengaji di rumah ustad Ahmad yang rumahnya tidak jauh dari mesjid. Dan tentu saja aku jadi murid paling pandai, paling cepat tangkap, anak lain baru mengeja huruf, sedang aku sudah bisa membaca al-quran. Hebat bukan. Tapi aku tetap anak biasa yang suka buat onar disana. Aku dan Surya akan menumpuk-numpuk sandal anak-anak lain lalu menendangnya, dan kami akan langsung pulang tanpa mempertanggung jawabkan semua perbuatan kami. Aku tersadar dari lamunanku. Tidak lama kemudian aku berjalan kembali, mengingat-ingat jalan yang membuatku tersesat.
Jam menunjukkan pukul delapan malam dan aku masih tersesat. Ada banyak yang sekarang aku pikirkan, aku mulai berpikir mungkin aku tidak bisa pulang, atau aku tidak mungkin bisa bertahan, atau aku mungkin akan mati. Tidak. Ini bukan sifatku, aku bukan orang yang mudah putus asa seperti ini. Aku berhenti sejenak. Terduduk dibawah pohon dengan ditemani daun-daun besar disekitarku dan tentunya suara malam yang menyenangkan. Suara ini tidak jauh berbeda dengan suara-suara malam di desa, tempatku lahir dan dibesarkan. Ya, aku berasal dari desa. Aku pindah ke Jakarta saat aku kuliah, dan aku memilih menetap disana hingga bekerja. Tidak ada alasan lagi untuk kembali kedesa. Kedua orangtuaku sudah meninggal dan aku tidak punya saudara. Hanya sendiri.
Dulu setiap mau shalat isha, aku selalu tertidur. Kalau kata ayah,” habis magrib itu mengaji sampai isha, jadi ishanya tidak lewat.” Aku mempraktekkannya tapi tetap mengantuk untuk melaksanakannya, tapi untungnya aku punya ibu yang super sabar, dia terus membangunkanku supaya aku tidak ketinggalan shalat isha. Ibu memang yang terbaik. Ibu adalah orang yang berjasa besar akan ketaatanku dalam shalat. Saat aku berlarian ditengah lapangan, ibu dengan sabar memanggiliku, mengajakku shalat dzuhur berjamaa, aku bisa melihat pelipisnya yang penuh keringat tapi dia tetap semangat untuk shalat berjamaa bersamaku. Aku benar-benar mencintai ibu. Sial, aku menangis.
Aku tayamum dan melaksanakan shalat isha. Dua puluh menit setelah itu barulah aku berjalan, perutku mulai tidak bersahabat. Lapar.
Setiap langkah kakiku aku teringat wajah ibu. Ujung bibirnya selalu terlihat tersenyum hingga membuatnya tidak tampak tua. Dia sangat cantik. Aku tidak pernah melihatnya menangis, dia tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum. Keluargaku tergolong keluarga kurang mampu, ayah hanya seorang tukang butut dan ibu hanya ibu rumah tangga biasa, kalau dia sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, dia akan kehutan terdekat dan mencari kayu-kayu kering. Kayu yang dibawanya tidak pernah sedikit. Sangat banyak, sampai dia harus membungkuk untuk menggendongnya, aku waktu itu masih sangat kecil. Tapi ada satu hal yang membuatku selalu kagum pada ibu, dia selalu beribadah. Dia shalat tepat waktu, mengaji, puasa sunnah, bahkan sedekah. Aku pernah bertanya padanya,’kenapa ibu selalu tertawa, kita tidak punya uang bu,’ ibu malah tertawa lagi, lalu berkata,”senangnya itu disini,” sambil menyentuh dadanya, hati. Ibu selalu bahagia kalau bersama Allah. Kebahagiaan yang luar biasa bagi dirinya adalah memikirkan Allah. Allah yang membuatnya punya pasangan hidup sebaik ayah, punya anak sehebat aku, dan punya keluarga sebahagia ini. Itu adalah kata-kata ibu.
ALLAH, seharusnya aku ingat itu. Seharusnya aku ingat siapa yang membuat aku jadi orang sehebat ini, siapa yang membuatku jadi anak yang super cerdas tidak terkalahkan didalam kelas, meraih jabatan tinggi di perusahaan, dan membuatku tersesat dihutan. Bodohnya aku tidak menyadarinya. Bodohnya aku melupakan siapa yang paling dicintai ibuku sendiri, siapa yang paling dijunjung tinggi oleh ayah. Aku salah menganggap diriku pintar.
Aku menatap langit, membayangkan diriku yang masih tujuh tahun. Yang menatap langit sambil membayangkan tuhanku. Ibu melihatku dari kejauhan sambil menenteng kayu kering, dia tersenyum. Lima bulan setelah kejadian itu ibu meninggal karena penyakit tipus. Dimalam kematiannya, dia mengatakan padaku untuk tidak bersedih, karena ibu akan menjumpai Allah, zat yang membuat kita semua bahagia. Dan benar saja, aku tidak menangis saat itu. Allah yang selama ini membuat aku, ibu dan ayah bahagia, pasti ibu juga akan bahagia disana, pikirku. Aku tidak menyangka ibu akan pergi selamanya, dua bulan setelah kematian ibu aku baru menyadari bahwa ibu meninggal. Tidak ada lagi yang memasak, tidak ada lagi yang selalu tersenyum, dan tidak ada lagi yang membangunkan shalat subuh. Bahkan ayah juga selalu dibangunkan oleh ibu. Dua tahun kemudian ayah menyusul ibu, gangguan pencernaan yang diderita ayah membuatnya susah makan dan akhirnya meninggal. Sebulan setelah kematian ayah aku dititipkan ke panti asuhan hingga SMA. Nilai-nilaiku sangat bagus hingga aku bisa masuk Universitas negeri ternama di Jakarta dengan beasiswa. Aku tidak perlu bayar uang kuliah. Empat tahun kuliah, aku lulus dengan predikat cumloud. Sangat hebat. Setiap hidupku, setiap malam saat aku mau tidur, aku  memandangi asbes membayangkan wajah ibu dan ayah. Kalau kalian masih ada, mungkin kalian akan jadi orang terkaya di desa. Aku salah, seharusnya aku banyak beribadah, supaya ayah dan ibu bangga padaku, bahwa anaknya tidak pernah lupa apa yang diajarkan oleh kedua orangtuanya.
Saat ini aku berjalan sambil menangis, bukan takut tapi menyesal. Memang benar kata orang penyesalan selalu datang belakangan, itu yang aku rasakan sekarang. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap detik dalam hidupku kuhabiskan untuk mencari materi. Tidak pernah terpikirkan untuk mengejar hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti mengejar subuhku yang selalu terlewat. Aku tidak bisa tidur, ini sudah jam tiga pagi. Aku tidak akan tidur sampai waktu subuh. Aku terhenti disebidang tanah kosong, kurebahkan tubuhku melihat kelangit. Terlihat beberapa titik bintang. Dan kembali terukir wajah ibuku, tidak lama terlihat wajah ayah. Mereka tersenyum. Lihatlah ayah, anakmu tidak tidur untuk menunggu subuh. Lihatah ibu, anakmu akn mengejar subuhnya seperti ibu mengejarku untuk shalat. Satu detik, dua detik, satu menit, lima menit, limabelas menit, setengah jam, satu jam, satu jam duapuluhlima menit, dua jam. Pukul lima pagi, aku tidak pernah selega ini tentang apapun termasuk shalat. Saat mengerjakan shalat aku hanya menganggapnya sebagai kebiasaandari kecil, tidak pernah ada hubungannya dengan perasaanku atas Allah. Tapi itu salah, sangat salah, itu sebabnya tidak pernah ada hubungan emosional antara aku dan tuhanku.
Dua rakaat. Hanya dua rakaat, membuatku berasa hidup kembali. Hatiku lega, plong, seperti tidak ada beban. Aku masih ada di dunia ini, ini milik Allah. Kalaupun aku tidak bisa pulang, aku masih didekat Allah dan itu mambahagiakan, karena senangnya itu disini. Dihati. Bukan dikantor, bukan di apartement yang mewah, bukan jabatan tinggi. Walaupun dengan definisi bahagia yang baru. Setipis apapun rasa itu, aku tetap mencintai Dia. Allah. Mungkin karena kelakuanku dulu, aku akan dipanggang habis-habisan di neraka. Tapi tak apalah, demi cintaku pada-Nya. Aku rela dipanggang kalau itu satu-satunya cara supaya aku pantas dihadapan-Nya. Aku jatuh cinta padamu, Tuhanku. Sangat disayangkan aku baru menyadarinya diusiaku yang setua ini. Duapuluh sembilan tahun. Tapi baguslah, tidak perlu setua pak Dirman. Hahahaha, sempat-sempatnya aku menghibur diri.
Sekarang aku merebahkan diri disini kembali menatap bintang-bintang. Ya Tuhan, aku tidak pernah merasa selega ini akan ibadah. Sudah tampak semburat jingga diatas sana. Sebentar lagi pagi. Aku akan melihat sunrise ditengah hutan, dalam keadaan lapar, mengantuk, lelah, tapi sudah shalat subuh. Aku menikmati pagi ini, matahari mulai tampak dan sangat indah. Aku suka ini. Hangatnya mulai menerpa, mataku terasa berat. Limabelas menit melihat sunrise, aku tertidur diselimuti panas mentari. Selamat tidur.
            “Oh my God! Fajar! “ suara teriakan itu, klienku.
            “Fajar, kami mencarimu dari kemarin. Syukurlah kamu baik-baik saja”. Wajahnya sangat khawatir, suaranya gemetar. Ada beberapa temanku dan wajah orang-orang yang tidak kukenal, mereka warga sekitar yang membantu mencariku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, mulutku terbungkam. Mereka membopong tubuhku, tiga jam lebih perjalanan dan aku sudah sampai di Jakarta.
********************************************************
            Pagi dunia! Indah sekali semburat jingga dilangit Jakarta. Aku tersenyum bahagia. Pagi ini aku sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi. Tidak ada yang berbeda dengan hari-hariku, aku masih seperti dulu. Fajar yang cekatan. Hanya saja aku punya kebiasaan baru. Tidak pernah lupa shalat subuh.


SELESAI

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lika Liku Melajang

Sebuah Tulisan Tentang ..... CORTIS

Money , Money, Money ….